Oleh: Markus Yarangga*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua semakin menunjukkan perannya sebagai salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di Tanah Papua. Program ini bukan hanya menghadirkan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Kehadiran MBG menjadi bukti bahwa pembangunan di Papua kini bergerak lebih menyentuh kebutuhan dasar masyarakat sekaligus membangun masa depan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Keseriusan pemerintah terlihat dari percepatan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Papua. Peninjauan langsung yang dilakukan Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, terhadap pembangunan SPPG di Kabupaten Supiori memperlihatkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam memastikan program berjalan optimal. Infrastruktur dapur MBG yang dibangun secara permanen menunjukkan bahwa program ini dirancang untuk jangka panjang dan menjadi bagian penting dari sistem pelayanan masyarakat di Papua.
Langkah Pemerintah Provinsi Papua yang mendorong pemanfaatan hasil kebun dan tangkapan ikan masyarakat lokal untuk mendukung MBG merupakan kebijakan yang sangat tepat. Pendekatan tersebut membuat manfaat program semakin luas karena tidak hanya meningkatkan kualitas gizi penerima manfaat, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil kini memiliki peluang lebih besar untuk memasok kebutuhan pangan bagi dapur MBG. Dengan demikian, perputaran ekonomi di tingkat kampung dan distrik dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Kabupaten Supiori bahkan dipersiapkan menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan dapur MBG di Papua. Langkah ini patut diapresiasi karena menunjukkan kesiapan daerah dalam mendukung program nasional dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan masyarakat. Pembangunan 12 titik SPPG di Supiori, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), memperlihatkan bahwa pemerintah ingin memastikan pelayanan gizi dapat menjangkau seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Program MBG juga semakin memperlihatkan dampak positif terhadap dunia pendidikan. Kehadiran makanan bergizi di sekolah membantu anak-anak lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar. Kondisi ini sangat penting bagi Papua karena kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan kesehatan peserta didik. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi cukup akan lebih fokus belajar dan memiliki energi yang baik untuk beraktivitas di sekolah.
Upaya Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendorong inovasi variasi menu MBG di Papua juga menjadi langkah maju yang patut didukung. Papua memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat melimpah dan bernilai gizi tinggi. Kehadiran menu berbasis pangan lokal seperti ikan, sayuran, ubi, sagu, dan hasil kebun masyarakat dapat memperkuat kualitas pelayanan MBG sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan Papua kepada generasi muda. Pendekatan ini membuat program MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga sarana edukasi tentang pentingnya pangan lokal yang sehat dan berkualitas.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Gunalan, menyampaikan bahwa Papua memiliki potensi inovasi MBG yang sangat baik. Hal tersebut terlihat dari perhatian pemerintah dalam memperkuat kualitas pelayanan gizi melalui sosialisasi modul edukasi dan peningkatan kapasitas SPPG. Dukungan berbagai pihak, termasuk apresiasi dari lembaga internasional, semakin memperlihatkan bahwa pelaksanaan MBG di Papua berjalan ke arah yang positif dan mendapat perhatian luas.
Di wilayah Papua Pegunungan, percepatan program MBG juga terus dilakukan secara serius. Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua menunjuk Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, sebagai simbol percepatan pelaksanaan MBG di delapan kabupaten. Langkah tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan program berjalan efektif hingga ke wilayah pegunungan dan daerah terpencil.
Kehadiran MBG di Papua Pegunungan memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena mampu membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Setiap dapur MBG membutuhkan tenaga kerja yang melibatkan masyarakat lokal, mulai dari pengelola dapur, distribusi, hingga pemasok bahan pangan. Kondisi ini menciptakan peluang ekonomi baru bagi anak-anak muda Papua dan mama-mama Papua yang selama ini membutuhkan ruang pemberdayaan ekonomi yang lebih luas.
Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix V Wanggai, menilai bahwa MBG harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi masyarakat. Pandangan tersebut sangat relevan karena program ini mampu menghubungkan sektor pertanian, perikanan, distribusi pangan, hingga pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam satu rantai pembangunan yang saling mendukung.
Program MBG di Papua pada akhirnya menjadi simbol kehadiran negara yang semakin nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun generasi Papua yang sehat, kuat, dan siap bersaing di masa depan. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, MBG memiliki potensi besar menjadi fondasi penting dalam menciptakan Papua yang maju, mandiri, dan sejahtera melalui pembangunan manusia yang berkelanjutan.
*Penulis merupakan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat












Leave a Reply