“Yang tegas” itu bisa dipercaya? - Indonesia Satu
Kontroversi Kedatangan KTA, Ini Kata MAHUTAMA
16/05/2020
Muharram Atha Rasyadi, Greenpeace Indonesia: NPAP Mari Fokuslah Pengurangan (3R) Sampah
17/05/2020

“Yang tegas” itu bisa dipercaya?

Berkali-kali gue perhatikan pro kontra elit rakyat yang sedang duduk di singgasananya hanya sekedar sibuk berpendapat, “tidak lebih”,terkhusus bagi yang kontra yang selalu menyatakan pemerintah tidak punya ketegasan menyelsaikan persoalan dinegeri ini, “kataya sih geting”.

Gue perhatikan Fadli Zon dan Fahri Hamzah masih terlihat dimedia-media, masih terlihat berkomentar mengkritiki pemerintah, gue sadarlah bahwa apa yang mereka lakukan memang sedang mencari panggung, karena memang belio bedua politisi. “berharap ada durian runtuh, kali aja mereka bisa jadi presiden suatu saat nanti”.

Walaupun pemilu sudah usai, tetapi berebut kepercayaan masyarakat masif dilakukan, “jadi inget kata-kata pak mahfud ditangah-tengah kondisi seperti ini jangan ada fihak yang mencari panggung”. Memang sih harusnya untuk sementara ini aktifitas berebut kepercayaan harus di hentikan, terlebih  di  tengah kondisi pandemi, diforum-forum dialog atau diskusi mereka masih bebas berdebat, herannya kepan KPAI tidak memberikan teguran pada stasiun Tipi itu?, acara yang menayangkan perdebatan hanya membuat rakyat tambah sakit pala. “nih gua kasih idea, KPAI bisa tegur tipi dengan alasan debat di Tipi itu gak menyelesaikan masalah”.

Kata “tegas” berhasil mempolarisasi kenyataan pemerintah hari ini,” emang enggak tegas juga sih, hehehe”, mengkin untuk selamanya jokowi dianggap tidak tegas.

Nyatanya setelah pemilu berakhir, perlahan lawan-lawan joko widodo itu mau juga ditawari posisi di pemerintahan, pertanyaanya siapa sebenernya yang tidak tegas?, memang politik hanya bisa dipercaya 20% saja, sisanya politik memang omong kosong.

Fihak oposisi atau pro-posisi kedua-duanya bersembunyi didalam kata “tegas”, tetapi senyatanya dalam politik tidak ada yang tegas, kita bisa lihat saja dari cara-cara mereka bekerja dan berkomentar, masyarakat sampai hari ini tidak merasaka apa-apa.

Bukan bermaksud untuk meragukan para  negarawan yang sedang bekerja sepenuhnya buat rakyat, bagi kita orang awam, Negarawan tidak ubah boneka kekuasaan, Bukan hanya yang pro maupun kontra, menurut gue sih sama saja, bagi yang memanangkan pengaruh, keuntungannya  pun hanya bisa dirasakan tim yang ada bidalik layar.

Gue cukup sadar diri kok, karena gak  didalam dilingkaran itu, biar tulisan ini dibilang adil, gue harus mengakui kekurangan dan kelebihn elit-elit yang sedang berjuang di panggung layar kaca, tidak juga berharap , rakyat semuanya hanya sekedar penonton.

Maka pertanyaannya dimana kebijakan yang rencanakan untuk rakyat?, posisi rakyat hanya tercantum dalam data negara dan hanya tertulis di undang-udang,”enggak lebih”.

Kasian juga rakyat ini dianggap ada jikalau ada momen politik saja, tapi begitulah, karena memang manusia punya ego, maka kekuasaan yang di pegang hanya akan berpihak sepenuhnya untuk kepentingannya dulu, sisanya baru rakyat.

 tidak ada guna juga membela yang sedang di cela, teruntuk  masyarakat yang tidak ada dilingkaran kekuasaan, yang percaya pada penyela,  gua rasa segeralah untuk menghentikan perbuatan membela, pikirkanlah kehidupan kalian saja, karna masadepa ada ditangan kalian, bukan pemerintah.

Saya mengatakan kekuasaan bukan bentuk manusia, jadi tak ada gunanya juga menuntut banyak-banyak dengan pemerinatah, kekuasaan adalah sesuatu hal yang ada  diluar diri manusia, buktinya presiden hanya akan mendengarkan masukan-masukan yang berjasa padanya.

Pasti masukan juraga-juragan bisnis memiliki pengaruh besar untuk menentukan kebijakan penguasa, kata-kata ketegasan seorang penguasa gue kira hanya bisa dilihat pada resikonya, jika resikonya besar maka ketegasan hanya bisa di ucapkan.

“Bertindak cepat dan tidak pandang bulu demi kepentingan rakyat tidak semudah dilaksanakan seperti yang ada dibenak para orang awam”.

Terkadang gua kasihan bagi masyarakat yang tidak mengerti keadaan  penguasa hari ini, ditengah krisis ekonomi karna pademi, masih saja berandai-andai dengan perkataannya politisi, terutama percaya dari yang kontra, mereka negarawan/politisi hanya sekedar basa-basi, agar tidak dinilai absen membela kepentingan rakyat, akhirnya masyarakat hanya kebingungan harus berbuat apa.

Sebenarnya pemerintah bisa saja membuat kebijakan dengan tegas untuk mendahulukan kepentingan  rakyat, tetapi yang paling gampang bagi para yang “kontra”, keberadaan mereka dilingkaran luar penguasa, mereka bisa melakukan kepeduliannya secara luluasa, dengan kemampuannya yang ia punya, melakukan kebaikan buat rakyat akan lebih mudah malampaui kuasanya penguasa, “kan kalian bilang pengusa plin-plan”.

Ditambah kesulitan yang diderita rakyat yang sebenernya jika dipersentasekan, 50% di karenakan ulahnya penguasa, sisanya garistangan tuhan bisa didiagnosa dengan cepat, para akademisi dan konsultan bisa memberikan saran-sarannya untuk kebaikan rakyat, tetunya dengan hal-hal yang bermanfaat dan produktif untuk rakyat, “cukup realistis bukan”?

Selain pemerintah, kalian yang “kontra” kebagian dosa, rakyat lagi-lagi di bohongi oleh kata-kata “tegas”, sangkin besarnya dosa kalian, maka tidak akan gampang bisa duduk di singga sana kekuasaan kelak, bilang penguasa bagini, begitu, kurang ini, kurang itu, kelak akan dituntut dipengadilan tuhan.

“baik yang pro dan kontra senarnya tetap digaji negara dan  meresakan hidup yang enak. Iya kan? Udah deh ngaku aja”.

Pesan bagi yang kontra segera hentikan meyalahkan kebijakan pemerintah, karna gue juga tau ucapan kalian hanya untuk membuat rakyat tidak percaya, setlah itu kalian tidak akan memberi solusi buat permasalah yang dialami oleh rakyat.

Pernyataan bagi yang pro jangan terlalu sibuk membantah mereka yang melancarkan serangan untuk menjatuhkan fokus pemerintah, “yang pro dan kontra kalian harus sadar bahwa rakyat sedang berbenah untuk kehidupannya, tidak usah berkata-kata karena itu tidak ada gunanya buat rakyat”.

Dede MY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *