Standardisasi Kecantikan - Indonesia Satu
Seorang perempuan yang perempuan
05/09/2019
Ukay Karyadi: putusan KPPU yang dikuatkan oleh Mahkamah Agung sebesar 94%
05/09/2019

Standardisasi Kecantikan

Ririn Ervina, Iain Metro

Ririn Ervina, Iain Metro

Sebagai perempuan rasanya manusiawi kalau peduli dengan kecantikan. Cantik adalah definisi yang menggambarkan fisik seseorang dengan standar tertentu. Hingga selanjutnya orang-orang akan punya pendapat yang sama atau berbeda tentang standar kecantikan. Siapa yang menetapkan standarnya? Laki-laki sebagai satu-satunya manusia yang akan tertarik dengan perempuan? Atau perempuan itu sendiri yang menetapkan standar atas kecantikan dirinya?

Katanya cantik itu relatif. Tentu benar, karena ini masalah selera. Selera laki-laki dalam memandang kecantikan terhadap perempuan tentu akan berbeda dengan selera perempuan itu sendiri. Pernah suatu ketika, ada teman lelaki saya yang suka iseng bilang.

“Kenalin donk teman-teman kamu itu, kan cantik-cantik.”

Kemudian saya balik berpikir dan bertanya. Teman mana yang kata dia cantik.

“Yang mana sih? Yang ini?”

“Bukan, yang satunya, yang mukanya unik..”

Mungkin dihadapan laki-laki ada semacam standart qualifications seorang perempuan dikatakan cantik atau menarik. Mungkin dengan mukanya yang bersih, bibir ranum, senyum manis, mata teduh, pipi tirus, pipi tembam, kulit putih atau hitam. Bentuk tubuh tertentu. Atau pakaian yang ia kenakan harus seperti ini dan itu. Masih banyak lagi standar kecantikan yang ada dibenak laki-laki. Niscaya kita tidak akan pernah sanggup mengukurnya.

Hingga kemudian demi hal-hal di atas, perempuan kerap berlomba-lomba menjadikan dirinya seperti kualifikasi tersebut. Tentu saja supaya diminati. Sehingga tidak kita pungkiri masyarakat kemudian membenarkan stigma bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang laku duluan. Menikah pada usia idealnya. Bahkan ada kawan lelaki saya yang bilang.

“Susah kalau nyari cewe cantik seangkatan mah, pasti udah ada yang punya, harus mbibit kita mah.”

Sebegitu saklek kah sebuah kecantikan. Hingga kecantikan kemudian dianggap sebagai tujuan yang akhirnya supaya cepat diminati orang. Perempuan jadi berlomba-lomba untuk menjadi cantik supaya dia punya banyak peluang dalam berbagai hal. Padahal lebih jauh, perempuan cantik tak pernah se-saklek itu.

Saya juga melihat bagaimana reaksi sosial yang timbul di sekitar saya ketika ada kawan perempuan tiba-tiba menikah. Kayaknya kok itu sebuah prestasi yang membanggakan. Kemudian mereka yang belum melewati masa itu akan dihujani pertanyaan.

“Kapan menyusul?”
“Jangab terlalu pemilih, nanti malah nggak ada yang mau loh.”

Seharusnya sedari awal kita menyadari bahwa perkara menikah itu bukanlah prestasi. Semua orang punya waktunya. Demikian juga kecantikan, bukanlah sebuah prestasi. Karena sebenarnya semua perempuan itu cantik. Bahkan standar kecantikan itu harusnya berasal dari diri perempuan itu. Bahwa dia akan merasa cantik kalau dia mampu melakukan A, B, C. Bukan memiliki tubuh yang seperti A, B, C.

Karena sebenarnya di luar sana, standar kecantikan begitu beragam di setiap negara. Misalnya Jepang memandang perempuang yang bergingsul itu menarik. Bahkan ada negara yang memandang perempuan dengan jidat lebar lebih cantik. Atau perempuan dengan leher panjang lebih cantik. Kita merasa cantik di sini belum tentu cantik di Jepang, atau negara-negara lain di luar sana.

Pada akhirnya, merasa cantik itu hak kita sebagai perempuan. Kita merasa cantik terhadap diri sendiri di sini, di kehidupan kita sendiri. Perkara orang lain menganggapnya tidak, ya bodo amat saja. Toh merasa cantik kan tidak merugikan orang lain. Dengan begitu kita tidak mudah merendahkan diri sendiri dan lebih percaya diri pada setiap hal-hal yang kita lakukan. Kita akan lebih memanusiakan perempuan, dengan menghargai pilihan-pilihan mereka.

 
Oleh: Ririn Ervina, Mahasiswa IAIN Metro

Ditulis karena merasa belum cantik, soalnya belum laku.
"Lohh anda tidak bisa begini???"


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *