Perangi Informasi Sesat Seputar Corona, WHO Gandeng Raksasa Teknologi Dunia - Indonesia Satu
TERUNGKAP! Ternyata Virus Corona Sudah Ada Sejak Tahun 2003!
05/03/2020
Buang Bayi-“Saya korban perkosaan”
08/03/2020

Perangi Informasi Sesat Seputar Corona, WHO Gandeng Raksasa Teknologi Dunia

Viralnya pemberitaan tentang virus corona di berbagai media massa akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan dalam musibah. Memancing di air keruh, mencari kesempatan dalam kesempitan.

Mulai dari mereka yang melihat peluang untuk berbisnis Alat Perlindungan Diri seperti masker. Menimbun –membeli masker dalam jumlah besar untuk kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga normal.

Ada pula yang mendirikan pabrik masker illegal, bahkan ada yang menjual masker bekas pakai.

Melihat peluang dan berbisnis bukanlah sesuatu yang salah, namun ada batasan-batasan kode etik yang tidak seharusnya dilangkahi.

Selain itu, ada juga yang memanfaatkan keadaan dengan cara-cara yang lain. Meraup keuntungan dengan cara menebar terror atau menyebarkan informasi-informasi sesat terkait wabah virus korona ini.

Banyak beredar di berbagai sosial media informasi menyesatkan yang bisa jadi sangat membahayakan keselamatan banyak orang. Serperti informasi produk yang mengklaim dapat menjadi obat virus corona, Informasi soal penemuan vaksin, aplikasi yang mengklaim dapat mendeteksi pasien terjangkit corona dan lain sebagainya.

Hingga munculnya berbagai pemberitaan seputar konspirasi tentang asal mula penyebaran virus ini.

Banyaknya informasi sesat yang menyebar begitu derasnya di berbagai sosial media kini menarik keprihatinan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

WHO menyebut kejadian ini sebagai “Infodemic”.

Kondisi peredaran informasi sesat ini membuat WHO kini giat mencari cara untuk membendung penyebarannya. WHO berusaha menggandeng perusahaan-perusahaan IT raksasa dunia seperti Google, Facebook, dan Twitter.

Terlepas dari berbagai informasi salah yang tersebar di seluruh jagad maya, WHO terutama sangat khawatir dengan informasi yang mengklain tentang penangkal dan obat virus, beberapa diantaranya menyebarkan cara-cara pencegahan virus dengan memakan dan atau memasukkan obat-obatan tertentu kedalam tubuh, yang tentu saja ini sangat berbahaya.

Andy Pattison, perwakilan dari WHO menyatakan bahwa saat ini mereka sedang berusaha membendung penyebaran informasi-informasi yang dapat menyebarkan kepanikan kepada masyarakat, seperti informasi tentang masker dan sabun pencuci tangan yang bahkan mengakibatkan ketersediaan masker di pasaran mengalami krisis.

“We’re trying to to quell these rumors about panic shopping, mass buying, and try and get to the bottom of the actual truth, which is going to help people.” Ucapnya seperti dikutip dari cnn.com.

Pattison melakukan kunjungan ke Silicon Valley untuk melakukan pertemuan dengan berbagai raksasa teknologi seperti Facebook, Google, Twitter, AirBnB, dan sebagainya. Ia mencari cara bagaimana membendung informasi-informasi sesat tersebut dan memastikan bahwa informasi dari sumber-sumber terpecayalah –WHO dan USCDC(Badan Penanganan Penyakit AS)  yang pertama sampai ke masyarakat.

Dengan TIM yang terbatas (kurang dari 30 orang) dan hanya tiga orang yang betul-betul fokus dalam mencari dan melaporkan informasi salah di media sosial, Pattison dan Tim nya harus berjuang mati-matian.

Mereka menggunakan Kecerdasan Buatan untuk membantu memantau peredaran postingan-postingan sesat di sosial media, untuk kemudian dilaporkan pada pada perusahaan sosial media tersebut untuk dihapus.

Untuk membantu memerangi penyebaran informasi sesat tersebut, facebook telah sepakat untuk memberikan ruang iklan bagi WHO sebanyak yang mereka perlukan untuk memastikan bahwa informasi resmi dari WHO sampai ke masyarakat.

Dalam pernyataanya, Mark Zuckerberg menyatakan bahwa Facebook juga tengah mengusahakan langkah langkah pencegahan dengan menghapus klaim-klaim sesat dan para konspirator yang berupaya memanfaatkan kegaduhan untuk kepentingan pribadi.

“Adalah penting untuk menyediakan wadah bagi orang untuk berbagi tentang pengalaman mereka –terkait corona virus— dan berbincang tentang  penybaranya, namun serperti standar komunitas kami telah menyatakan dengan sangat jelas, adalah hal yang salah untuk menyebarkan informasi yang dapat menempatkan orang lain dalam bahaya,” Tulis Mark Zuckerberg serperti dikutip dalam postinganya.

Hingga saat ini berbagai perusahaan raksasa lainya seperti Google, Twitter, dan TikTok telah ikut berupaya memberikan tautan dari berbagai sumber terpercaya terkait virus corona seperti WHO, USCDC, dan lembaga kesehatan resmi milik pemerintah di berbagai Negara.

Terlepas dari upaya-upaya pencegahan dari berbagai pihak, penyebaran hoax dan informasi sesat terkait wabah virus corona, baik tentang asal usul munculnya virus, klaim obat-obatan yang mengaku dapat menyembuhkan penyakit corona, hingga spekulasi tentang virus corona adalah senjata biologis yang sengaja disebar sebagai bentuk propaganda. Oleh sebab itu, kita sebagai masyarakat juga harus ikut andil dalam mencegah penyebaran berita hoax dan sesat semacam itu. Selalu cek sebelum menyebarkan berita dan hanya berpegang pada sumber informasi terpercaya seperti situs WHO, USCDC atau situs milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.


SUMBER INFO TERPERCAYA TERKAIT KORONA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *