Oleh : Martha Yoweni )*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membangun generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Program ini memberikan dampak luas, mulai dari peningkatan gizi hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Dengan kebutuhan harian yang besar akan bahan pangan bergizi, MBG menjadi pendorong utama dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak Papua agar lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Keberadaan program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat, khususnya di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Dengan meningkatnya permintaan akan bahan pangan lokal seperti sayuran, umbi-umbian, ikan, ayam, dan beras, para petani dan nelayan mendapatkan pasar yang stabil untuk hasil produksinya. Hal ini mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Ketua DPW SKKP Provinsi Papua Tengah, Dr. drg. Aloysius Giyai, M.Kes, menekankan bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam menyediakan bahan pangan lokal yang mencukupi. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para sarjana, untuk terlibat dalam sektor pertanian, peternakan, dan perikanan guna mendukung keberlanjutan program ini. Menurutnya, orientasi generasi muda terhadap pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak lagi relevan, karena sektor pangan justru menawarkan peluang ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Di Kabupaten Nabire, sebanyak 13 Titik Dapur Sehat telah beroperasi untuk melayani sekitar 3.500 penerima manfaat, yang terdiri dari ibu hamil, bayi, hingga pelajar. Dengan kebutuhan harian sebesar 3.500 kotak makanan, berbagai jenis bahan pangan harus tersedia dalam jumlah besar setiap hari. Situasi ini menciptakan pasar yang stabil bagi produsen pangan lokal, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan di Papua.
Dr. drg. Aloysius Giyai, M.Kes menyatakan bahwa MBG dapat menjadi momentum bagi masyarakat Papua untuk mengembangkan pertanian dan perikanan berbasis kearifan lokal. Dengan melibatkan masyarakat adat dan kelompok tani, program ini dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan mendukung ketahanan pangan jangka panjang. Dengan adanya kolaborasi yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, Papua dapat menjadi contoh sukses dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Letjen TNI Bambang Trisnohadi, menegaskan bahwa program MBG masih melibatkan personel dan peralatan TNI dalam tahap awal implementasi. Namun, dalam jangka panjang, Badan Gizi Nasional (BGN) diharapkan dapat mengambil alih pelaksanaan program ini agar lebih mandiri dan berkelanjutan. MBG juga merupakan langkah strategis dalam menciptakan ketahanan pangan yang kokoh di Papua, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terus meningkat.
Di sisi lain, Yusen Tabuni, mantan Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM), menyatakan bahwa MBG memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak Papua. Ia menegaskan bahwa program ini murni bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat dan mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu hoaks yang mencoba menghambat pelaksanaannya. Dengan MBG, generasi muda Papua dapat tumbuh lebih sehat dan memiliki kesempatan lebih besar untuk berprestasi dalam berbagai bidang.
Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua juga menekankan bahwa MBG adalah bukti nyata kehadiran negara dalam menyejahterakan masyarakat Papua. Ia mengajak para guru dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan bahwa program ini berjalan tanpa gangguan. Menurutnya, memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Papua yang lebih cerah.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa sinergi lintas sektor sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program MBG. Ia optimistis bahwa pada akhir tahun 2025, seluruh anak Indonesia akan dapat menikmati manfaat program ini. Dengan target awal sebesar 3 juta penerima manfaat pada Januari-April 2025, jumlah tersebut diharapkan meningkat menjadi 6 juta penerima manfaat pada tahap berikutnya. Langkah ini akan semakin memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara luas.
Selain sebagai program peningkatan gizi, MBG juga berperan sebagai katalis dalam membangun kemandirian pangan di Papua. Dengan adanya kebutuhan besar akan bahan pangan, masyarakat didorong untuk meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan dan menciptakan peluang kerja yang lebih luas.
Tantangan utama dalam mewujudkan kemandirian pangan di Papua adalah distribusi dan logistik. Sebagian besar wilayah Papua memiliki kondisi geografis yang sulit, sehingga akses terhadap bahan pangan masih menjadi kendala. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan pasar harus menjadi prioritas agar distribusi bahan pangan dapat berjalan lancar dan efisien.
Keberhasilan program MBG di Papua akan menjadi model bagi daerah lain dalam upaya menanggulangi masalah gizi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini membuktikan bahwa intervensi pemerintah dalam sektor pangan dapat menciptakan dampak luas, mulai dari peningkatan gizi hingga pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta harus terus diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Generasi muda Papua yang sehat dan cerdas akan menjadi kunci dalam mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera dan berdaya saing tinggi.
)* Penulis merupakan mahasiswa asal Papua di Makassar
[edRW]
Leave a Reply