Merokok mati, gak merokok mati juga, merokok saja sampai mati - Indonesia Satu
Boruto, Hokage dan Ingatan Masa Silam
18/05/2020
APARA Salurkan Bantuan Sembako dari KABAHARKAM
20/05/2020

Merokok mati, gak merokok mati juga, merokok saja sampai mati

Hampir semua jenis rokok gue pernah coba, mau filter maupun kretek semua pernah gue nikmati, merokok udah jadi bagian hidup, membaca buku atau pun nongrong sampai ngapelin cewe, merokok seperti  suplemen penambah inspirasi.

Bagi penikmat rokok, jika rokok tidak disaku celana, serasa di tabok cina gak ngelawan. Menurut gue, lelaki gak merokok itu terlihat kurang jantan,  kehidupannya pasti monoton, gitu-gitu aja kaya sayur basi layak dibuang.

Waktu pertama kali gue nyobain rokok, seperti ada perubahan pada diri, gue udah kayak anak yang sudah dewasa, yang keren dan gaul, walaupun gue belum bisa merasakan rasa rokok, rasa pait ada manisnya dianggap itulah rasa rokok.

Gue anggep anak yang gak merokok pasti dia anak culun, cupu, gak ngerti tentang dunia luar, dia gak bakal ngerti dunia anak muda yang gaul juga keren, suka nongkrong dan pastinya merokok sambil stending-stending motor dijalanan. hahaha

merokok nikmatnya disaat ditemani dengan segelas kopi, entah teori dari mana, tapi semua perokok pasti punya rasa yang sama, didaerah pegunungan di kampung halaman, cuaca dinging terutama pagi dan malam hari, pelariannya hanya dua, rokok dan kopi, sambil melamunkan keadaan yang tidak ada perubahan, terkadang nikmatnya rokok bisa memancing semangat baru, “gak percaya?, coba aja merokok”.

 Rokok seperti senjata utama dikala berkumpul, bahkan obrolan gak bakal ngalur dikala perokok pada mutus gak mempu beli rokok, rokok pun bisa menandakan status sosial seseorang, rokok mahal menandakan kehidupan makmur, “kek di ikaln-iklan gitu, kalo rokok murah iklannya cuman jin doang, hehehe”, sebaliknya, kalo rokoknya murahan atau bahwan ketengan, maka dipastikan hidupnya suram dan gak punya kerjaan kek gue ini, hehe.

Dikampung halaman, hampir rata-rata kebiasaan menyorenkan sarung atau berselimut sarung, biasanya pada malam hari, “maklumlah disini kan desa juga hawa dingin gak memungkinkan membawa selimut nongkrong dipinggir jalan”. Menyedot sebatang rokok, sambil nongkrong di bes pinggir jalan adalah salah satu cari untuk menikmati suasana malam.

Biasanya kami ngumpul, ngobrol panjang lebar membahas ini, itu, pokoknya obrolan asyik sambil merokok.

Gue dan teman-teman memang lama sekali tidak bertemu, rata-rata pemuda dikampung memang merantau kekota, ada yang berstatus sudah berkeluarga, ada juga yang masih singgle,” jadi ceritanya kangen-kangenan, karena udah lama gak bertemu, biasanya kami bisa ketemu setahun sekali , tapi kali ini tidak”,  wabah virus membuat perantau mudik ke kampung halaman lebih cepat dari yang seharusnya, besar harapan kami wabah ini agar segera teratasi agar bisa beraktifitas kembali, sahut salah satu teman yang merokok lintingan.

Sebagian ada yang cari kayu kering untuk dibakar dipinggir jalan, karena semakin malam hawa dingin sudah merasuk ditulang,  biar ngobrol dan merokok tambah asyik, salah satu teman yang menyempatkan membawa termos dan toples kopi dan gula, segera menyeduh kopi.

haha,hihi, gak karuan membuncah dipinggir jalan, tiba-tiba ada salah seorang teman yang mengeluhkan kebiasaan merokoknya, dia dibilang terlalu boros, “satu hari satu malam bisa menghabiskan rokok sampai 3 bungkus rokok kretek, isterinya mengomeli dia”.

” Maklum saja ditengah-tengah musim paceklik selain karena wabah corona, musim kopi di kampung juga masih dalam hitungan bulan, sehingga membuat  masyarakat desa harus pintar mengatur keuangan rumah.

Musim penyakit di kota membuat perantauan pada pulang kampung, kedatangan mereka serasa menambah cerita sedih, ditengah-tengah keluarga yang serba pas-pasan, terlontar kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang harus di musnahkan, bila perlu harga rokok dimahalkan saja, biar orang gak sembarangan membelanjakan uangnnya membeli rokok, paling tidak para perokok bisa ditekan dengan harganya yang mahal.

Sembari menghisap rokok, gue juga berseloroh, menabung hanyalah impian tinggi yang gak bakalan terlaksana, bahkan  uang koin tidak luput untuk dibelnjakan rokok,  “ketengan pula, hehe”, ditengah-tengah masa mutus, tentu rokok juga bisa mengusir keluh kesah yang ada, tapi jika rokok habis, baru ingat lagi kalo sedang dalam masa mutus yang begitu parah. “hehehe”.

Memang benar,  dipikir-pikir satu bungkus rokok bisa membeli telur dan bahan makanan lain, jika penghasilan 1 hari 50 ribu tentunya sangat cukup membeli bahan makanan yang lumaayan, kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh sedikitnya bisa dipenuhi, vitamin, protein, lemak, begitulah hitung-hitungan kotor gue.

Namun apalah daya perokok yang hidup tanpa rokok, tingkat kesetresan hidup akan meningkat, karena akan ada banyak petani tembakau atau karyawan rokok yang tidak bisa membeli kebutuhan, karena sudah tidak ada lagi yang membeli rokok .“akhirnya gue hanya bisa bilang, merokok bisa mati, tidak merokok juga mati, tetap merokok saja sampai mati”.

Dede MY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *