Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta gelar Webinar sertifikasi Dai di tengah perkembangan teknologi - Indonesia Satu
Dewan Pengurus Pusat Ritonga Bikers Community (DPP RBC) Resmi di Kukuhkan dan Dilantik.
13/10/2020
Jalan mulus dan Perbaikan Jembatan se Lampung Timur Prioritas Pertama Janji Yusran-Kisworo
03/11/2020

Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta gelar Webinar sertifikasi Dai di tengah perkembangan teknologi

Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta mengadakan webinar bertajuk “Urgensi Sertifikasi Dai ditengah Perkembangan Teknologi” Selasa (27/10/2020). Webinar yang dilaksanakan melalui platform Zoom tersebut menghadirkan Assoc Prof. Agus Pramono, Ph. D Tech, Gus Sholeh MZ, Ade Rina Farida, M.Si, dan Achmad Sholehan, M.Si sebagai narasumber.

Dalam penyampaiannya, Achmad Sholehan mengatakan “Pada hakikatnya berdakwah adalah mengajak kepada jalan Tuhan, dengan menyampaikan sesuatu untuk bekal kita berjalan ke akhirat dengan ridho Allah SWT”.


Menurutnya Achmad, Seorang pendakwah harus memiliki kapasitas keilmuan dan juga adab yang baik. Di zaman sekarang ini banyak bermunculan orang-orang yang tiba-tiba menjadi pendakwah. Namun, kita harus waspada karena banyak pendakwah yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam.


“Dengan adanya sertifikasi dai maka, kita dapat mengetahui atau menjaring seseorang yang tidak kompeten dalam berdakwah. Yang lebih pokok bagi para dai di tengah perkembangan teknologi saat ini adalah, bagaimana dipentingkannya pakta integritas bahwa ketika berada dalam wilayan NKRI maka berjanji untuk setia, patuh, dan tidak melanggar pancasila, UUD 1945 serta tidak akan memecah belah bangsa. Namun negara juga tidak berwewenang untuk menangkap pendakwah yang tidak memiliki sertifikasi, namun dapat ditangkap apabila terjadi pelanggaran hukum pidana maupun perdata” tutur Achmad.


Assoc Prof. Agus Pramono, Ph.D Tech mengatakan, “sertifikasi dai harus mengikuti perkembangan teknologi dan zaman. Sertifikasi dai ini sangat diperlukan, mengingat banyak orang yang basic keilmuannya tidak dilakukan secara formal, tidak menggunakan adab dan akhlak serta bertentangan dengan nilai-nilai dakwah. Saat ini banyak bermunculan firqoh baru, yang menjadi hambatan bagi kita”.


Pria yang juga menjabat sebagai Rois Syuriah PCINU Federasi Rusia dan Eropa Utara tersebut menambahkan bahwa sertifikasi dai harus memiliki standard khusus, agar tidak terjadi kerusakan sistem atau kerusakan berfikir. Di dalam Sertifikasi dai harus ada institusi khusus yang menanganinya dan memiliki rujukan sanad serta bergerak dalam satu komando.


“Konsep keilmuan sebagai seorang pendakwah mencakup tiga nilai diantaranya pengetahuan ilmiah, pengetahuan yang diamalkan, dan pengamalan” ucap pria yang akrab disapa Gus Pram tersebut.


Senada dengan narasumber sebelumnya, Ade Rina Farida, M.Si menyatakan bahwa sertifikasi merupakan bentuk kelayakan penceramah untuk berdakwah. Standard kelayakan dai bersertifikasi mencakup pengetahuan agama, kebangsaan, sistematika dakwah yang mengarah pada ukhwah islamiyah.


Lebih lanjut, Sekretaris LP2M UIN Jakarta tersebut mengatakan “Dalam berdakwah lebih baik lagi jika menggunakan data, sehingga bisa menemukan problem solving di kehidupan masyarakat”.
“Ditengah perkembangan teknologi saat ini, jika dai sudah mengikuti sertifikasi maka mereka akan bisa turut serta dalam menangkal hoax. Karena saat sertifikasi tentunya diberikan pelatihan dan pengarahan. Standard yang perlu dimiliki oleh seorang dai adalah kemampuan materi, visi keagamaan, kemampuan komunikasi, juga berbasis riset” ungkapnya.


Sementara itu, Gus Sholeh MZ menuturkan, “di era reformasi saat ini islam-islam sempalan banyak yang masuk di Indonesia. Maka urgensi sertifikasi dai sangat penting karena di Indonesia saat ini banyak bermunculan kelompok-kelompok anti nasional. Di mana kelompok ini sering memaksakan kehendak untuk merubah ideologi Indonesia”.


Menurutnya sertifikasi dai merupakan suatu penghargaan dari pemerintah yang harus kita apresiasi. Indonesia merupakan negara yang penduduknya mayoritas islam, namun pasca reformasi ini bukan lagi menjadi islam yang ramah, akan tetapi berubah menjadi islam yang penuh kebencian dan caci maki.


“Dengan sertifikasi dai ini maka paling tidak masjid-masjid di pemerintahan, kegiatan ceramahnya baik ceramah mingguan, bulanan, harian, khutbah jumat, hanya boleh diisi oleh penceramah yang bersertifikasi. Di dalam sertifikat nantinya dituliskan mazhabnya yang jelas, kemudian penerapan ini dievaluasi apakah benar-benar efektif untuk digunakan” Ungkap Sholeh.


“Negara indonesia saat ini hancur bukan karena serangan dari luar negeri, namun kerana pendakwah yang saling mencaci maki” tegasnya.

Webinar yang dimoderatori oleh Ruzi Setiawan, S.E tersebut dimulai pukul 14.00. Setelah adanya pemaparan dari para narasumber webinar kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara narasumber dan peserta webinar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *