Lookism, Memandang Dunia dari 2 Sisi - Indonesia Satu
Mantan Juara Dunia 2019 PUBG Mobile, Bigetron Red Aliens Duduki 6 Klasemen PMPL SEA Matchday 2
02/05/2020
LBH Pers: PHK, Kekerasan, RUU Cipta Kerja, dan RKUHP Ancaman Nyata di Tengah Covid-19
03/05/2020

Lookism, Memandang Dunia dari 2 Sisi

Saya tidak pernah tertarik dengan komik luar negeri selain komik Doraemon. Keberadaan Webtoon yang kala itu membuncah dikalangan remaja beberapa hari setelah launching pun tidak membuat saya se-histeris itu. Namun, suatu ketika saat sedang asyik WiFi-an di dekat pos satpam kampus IAIN Metro, seorang teman bercerita betapa serunya membaca lewat aplikasi tersebut.

Akhirnya berkat gaya promosi teman saya itu, saya tergerak untuk melihat-lihat isi webtoon. Kalian tahu bagaimana rasanya bertemu cinta pertama? Saat mata mu secara mendadak tertuju padanya entah mengapa. Ya, itulah yang saya rasakan saat mata saya hanya tertuju pada dua judul Webtoon (loh kok cinta pertamanya ada dua?!) yaitu Nobless dan Lookism.

Bicara soal Lookism yang telah memiliki jutaan penggemar ini, secara mendadak saya kembali dalam masa beberapa tahun silam, mungkin 10 tahun yang lalu. Saat itu saya masih mengenakan seragam putih merah dengan rambut yang dikucir kuda. Sosok Park Hyung Suk mengingatkan betapa mengenaskannya saya di masa itu. Saya pernah merasakan betapa tidak menyenangkannya perundungan. Meski tidak setragis apa yang dialami Park Hyung Suk.

Saya selalu merasakan ketakutan yang besar saat akan memasuki ruang kelas. Inilah yang membuat saya kerap hadir pukul 6 pagi dan akan mogok sekolah jika saya kedapatan terlambat. Pukul 6 pagi adalah saat gerbang sekolah baru dibuka dan kotoran kering milik kelelawar menyambut ketika saya membuka pintu kelas. What? Ya, beberapa kelelawar memang singgah di atap ruang kelas (saya tidak tahu kebenarannya tetapi memang setiap pagi selalu ada kotoran kering di dalam kelas). Tidak hanya kelelawar, belatung juga ikut hadir dalam suasana pembelajaran. Bagi kami, itu hal yang biasa.

Dan sungguh hal yang biasa bagi saya yang selalu memikirkan “Mengapa mereka terbiasa dengan belatung dan kotoran kelelawar tapi memasang wajah mencemooh saat berada di dekat saya?”. Itulah keadaannya. Ketika murid senang saat tak ada guru di dalam kelas, bagi saya itulah petaka. Para guru nampaknya maklum dengan bagaimana sifat mereka terhadap anak kecil ini sehingga mereka biasanya mengatur sendiri urusan tempat duduk muridnya. Namun jika dalam kelompok, tak ada satupun yang ingin menulis nama saya ke dalam kelompoknya. Beberapa teman memang baik, tetapi hanya baik saat tak ada teman sekelas yang melihat.

Kemudian, bertahun-tahun luka itu mengering dengan sendirinya. Bahkan saya hampir tak mengenal diri saya di masa itu. Jika waktu bisa terulang saya tentu menertawakan “mengapa bisa?”. Jujur, saya masih mengingat siapa dan bagaimana kalimat yang mereka lontarkan. Namun, sebaik-baiknya balas dendam adalah dengan tidak membalasnya kan? Ada banyak hikmah baik dari segala kejadian yang telah terjadi.

Diri saya yang dulu, diri saya yang sekarang.

Seperti Park Hyung Suk, saya merasakan bagaimana memandang dunia dari dua sisi. Sangat tidak menyenangkan memandang dunia dengan diri saya yang dulu, keputusasaan selalu jadi pewarna. Bahkan pernah terbersit keinginan bunuh diri pada masa itu, Nauzubillah, Astaghfirullah, Allahu Akbar.

Namun ternyata ada banyak ‘saya yang dulu’ di beberapa daerah di Indonesia bahkan dunia. Perundungan kerap kali terjadi entah sebagai eksistensi ataupun pelampiasan. Apapun bentuknya, saya sangat menentang terjadinya hal ini.

Dear,
Setiap orang memiliki potensinya masing-masing. Dirimu spesial. Mengapa Tuhan menciptakan pohon dan ilalang? Kenapa tidak menciptakan bunga saja? Mengapa Tuhan menciptakan rembulan? Kenapa tidak matahari saja? Mengapa Tuhan menciptakan pelangi setelah hujan? Kenapa tidak petir saja? Kenapa Tuhan menciptakan tgaram untuk melengkapi semua masakan? Bukankah garam itu asin?

Dear,
Jangan memandang orang lain dengan sebelah mata. Jangan ucapkan kata yang kau sendiri tak ingin mendengarnya. Jangan lakukan hal yang kau sendiri tak ingin disakiti dengannya. Jangan lakukan keburukan pada orang lain hanya untuk membuatmu bersinar. Tak ada istilah seperti itu. Semua orang bersinar dengan cahayanya masing-masing.

“Meski hidup kadang tak adil, tapi cinta lengkapi kita”-Nidji, Laskar Pelangi.

Thank you Park Hyung Suk

Selamat hari pendidikan nasional.

(Ditulis setelah membaca Lookism ditemani bunga-bunga yang tertiup angin)

Metro, 2 Mei 2020

 

Bunga Puspita,

Bunga Puspita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *