Kumamoto Artpolis - Indonesia Satu
Antara aku, kopi dan pendidikan
15/10/2019
BAKERCAB GMNI Kota Medan, soroti Walikota Medan dalam korupsi.
16/10/2019

Kumamoto Artpolis

Kumamoto Artpolis adalah sebuah mahakarya perancangan kawasan perkotaan di Prefektur Kumamoto yang lahir dari duet maut gubernurnya saat itu, Morihiro Hosokawa, dengan arsitek kebanggaan Kyushu, Arata Isozaki. Gubernur Hosokawa, yang kemudian sempat menjadi Perdana Menteri Jepang periode 1993-1994, bekerja sama dengan maestro arsitek Isozaki, untuk menghadirkan terobosan baru dalam pembangunan kembali kawasan perkotaan (urban redevelopment) yang mengedepankan desain daripada fungsi.

Proyek ini dimulai pada tahun 1988 dan Arata Isozaki ditunjuk sebagai komisaris utama proyek ini. Pada tahun 1997, Toyo Ito, maestro arsitek Jepang lainnya, menggantikan posisi Arata Isozaki. Tercatat ada sekitar 80 karya arsitektural dan bangunan yang terbangun sebagai bagian dari proyek ambisius ini.

Alhamdulillah saya berkesempatan untuk mengunjungi beberapa karya tersebut dalam perjalanan singkat lebih kurang setengah hari keliling Kumamoto, salah satu kota besar di selatan Jepang. Karya yang pertama dikunjungi adalah Hotakubo Daiichi Public Housing Complex yaitu sebuah kompleks perumahan umum vertikal yang dirancang oleh arsitek Riken Yamamoto.

Berbeda dengan bangunan perumahan susun di Jepang yang cenderung terbatas aksesnya menuju ruang terbuka yang biasanya hanya ada di lantai dasar, rumah susun ini justru menghadirkan ruang terbuka yang berupa teras dan balkon tepat di tiap unit dan tiap lantainya.

Secara konstruksi, tentunya ini berimbas pada kebutuhan biaya yang tidak sedikit dan tidak sepadan dengan fungsinya yang “hanya” sebagai perumahan umum yang biasanya memiliki anggaran pembangunan yang tidak besar. Akan tetapi dikarenakan pertimbangan desain menjadi penekanan utama maka tugas arsiteknya adalah bagaimana mewujudkan ide yang mahal ini dalam keterbatasan biaya konstruksi.

Kesan saya, secara desain dan teknik konstruksi, bangunan-bangunan yang ada di kompleks ini berhasil menjadi suatu karya yang “fresh” dan unik, sangat berbeda dibanding bangunan-bangunan rumah susun lainnya. Material yang digunakan walaupun umum ditemui di Jepang, namun penggunaannya pada rumah susun cukup spesial dan inovatif karena adanya keterbatasan dana tadi. Karya ini mendapat 2 kali penghargaan dari Architectural Institute of Japan yaitu pada tahun 1988 dan 2002.

Namun bagi saya ada satu hal yang mengganjal. Ide untuk menghadirkan ruang terbuka (ruang publik) dekat dengan penghuni rumah susun tersebut sepertinya tidak mendapat respon yang baik. Hal ini bisa dilihat pada foto yang memperlihatkan bahwa ruang-ruang terbuka berupa balkon dan teras tersebut ternyata malah digunakan sebagai tempat menjemur pakaian dan kasur daripada tempat berkumpul. Mungkin ini karena kecondongan orang Jepang yang sangat kuat terhadap ruang tertutup (ruang privat).

Alhasil ide dan desain yang luar biasa ini seperti menjadi mubazir. Mottainai (もったいない) kalau kata orang Jepang. Satu pelajaran penting bagi para arsitek.

Fritz Akhmad Nuzir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *