Jejak - Indonesia Satu
Kutuk keras tindakan teror terhadap pembubaran dialog akademik di Yogyakarta, Begini sikapnya!
31/05/2020
Demi Kepentingan Pribadi, Jismer Lumban Batu Gunakan Stempel Ketua DPRD Labuhanbatu
12/06/2020

Jejak

Malam ini saya tepat pada pukul 18.00 Wib saya berhasil membuat pancake setelah percobaan berpuluh kali. Namun bila disajikan di depan para ahli memasak sekaliber Chef Juna, mungkin yang ada masakan tersebut berakhir dengan (tidak) indahnya di meja makan tanpa tersentuh. Mengapa demikian? Karena bentuknya tak semenarik rasanya.

Bukannya memuji diri sendiri (padahal kalau bukan diri sendiri yang memuji siapa?) tapi jika dibandingkan dengan pancake jadi jadian yang saya buat sebelumnya, pancake malam ini adalah yang terbaik. Rasanya seperti bertemu cinta pertama yang mendebarkan hati lalu terbalaskan dengan episode akhir yang melambungkan diri ke langit ketujuh.

Saya cukup merasa puas walau belum mendekati kesempurnaan. Hal ini dikarenakan pelatihan membuat pancake secara mandiri yang memakan waktu bertahun-tahun. Saya mulai berlatih saat memasuki babak akhir di Sekolah Menengah Pertama. Saat itu saya sedang asyik mencomot pisang goreng sembari menonton Boys Before Flower yang ditayangkan di media ikan terbang.

Episode saat itu adalah ketika Ji Hoo salah satu anggota F4 sedang terobsesi dengan pancake dan kerap kali gagal membuatnya. Lalu dimulailah jejak pembelajaran saya dalam membuat pancake. Sayangnya kurang lebih satu bulan saya masih saja mendalami seluk beluk teori mengenai pancake (sudah seperti mempelajari undang undang saja).

Barulah di bulan kedua saya mantap menceplok telur dan mencampurkannya dengan bahan-bahan yang lainnya.

Hasil pertama yang saya dapatkan membuat saya berfikir untuk menjadikannya telur dadar dicocol sambal terasi saja. Ya karena bentuknya malah menyerupai telur dadar rasa susu. Percobaan tersebut tak langsung saya habiskan karena saya teliti secara mendalam.

“Padahal kan udah ngikuti resep kok gagal?”

Kemudian saya paham, bahwa teori saja tak cukup untuk mempraktikkan sesuatu secara optimal. Waktu pun berlalu tanpa permisi sebelum saya akhirnya cukup puas untuk membandingkan pancake buatan saya dengan pancake yang ada di suatu tempat cepat saji.

Setelah menghabiskan makanan tersebut, saya termenung cukup lama. Ada banyak waktu, tenaga, uang dan referensi bacaan yang saya perlukan hanya untuk membuat satu kue yang bahkan habis dimakan kurang dari 5 menit.

Lantas, bagaimana dengan hal-hal lainnya? Fikiran saya mulai berkelana membayangi jutaan bahkan miliyaran manusia yang ada di bumi (yang entah berapa jumlah pastinya).

Seorang penari rela mencederai otot-otot tubuhnya walau tanpa sengaja agar dapat tampil optimal di panggung. Yang mungkin saja hanya memakan waktu selama 4 menit saja. Seorang koki menghabiskan banyak uang dan tenaga demi menyajikan makanan yang paling lama dihabiskan dalam waktu 1 jam disertai dengan mengobrol dan ber-selfie ria.

Mereka meninggalkan jejak dalam setiap langkah meraih sesuatu yang mereka inginkan. Bisa jadi, memerlukan waktu yang lama bahkan bisa jadi sambil menekan segala hal-hal memuakkan yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan.

Mungkin saja caci maki, kritik dan kata-kata tak pantas tumbuh dalam setiap tikungan yang mereka lewati. Namun mereka selalu dapat melewati nya dengan mudah di mata orang lain. Demi apa? Tentu saja untuk memuaskan diri dengan segala mimpi yang mereka inginkan.

Lalu, apakah angin dengan mudah menghapus jejak mereka?

“Ya, tergantung karena angin hanya dapat menghilangkan jejak yang dapat dihapus hanya dengan hembusan-hembusan”

Setiap manusia di bumi selalu memiliki tokoh yang memotivasi hidupnya. Sadar atau tidak, kita mulai memikirkan cara untuk mempelajari jejak sebelum mengikuti jalan sama yang tokoh tersebut lalui.

Menariknya, dipertengahan jalan kita seolah tersadarkan jika setiap orang tidak melalui jalan yang sama walau tujuannya sama.

Setelah renungan panjang tersebut membawa saya pulang ke rumah, saya tersenyum dan sadar jika satu semut telah bertandang ke piring.

“Ternyata pancake dapat memberi sebuah pelajaran hidup” ujar saya dalam hati.

Metro, 7 Juni 2020

(Ditulis setelah melihat semut berusaha merangkak ke piring kosong)

Bunga Puspita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *