Ikatan Alumni Putri Pondok Pesantren Al-Fiqoriyah (IKAP) Gelar Diskusi Mengungkap Implementasi Negatif Radikalism - Indonesia Satu
Kantor TVOne di Geruduk Aksi Massa Mahasiswa dan Masyarakat
29/01/2020
Rektor Universitas Labuhanbatu Sampaikan Orasi Ilmiah di Milad HMI 73
06/02/2020

Ikatan Alumni Putri Pondok Pesantren Al-Fiqoriyah (IKAP) Gelar Diskusi Mengungkap Implementasi Negatif Radikalism

Bogor – Melihat masih maraknya fenomena radikalisme yang mengatasnamakan agama, membuat santri-santri dan alumni pondok pesantren resah, pasalnya pemahaman agama yang radikal ini tidak luruskan, khawatir akan merugikan masyarakat Islam.

Merespon fenomena tersebut, Ikatan Alumni Putri Pondok Pesantren Al-Fiqoriyah (IKAP) menggelar Diskusi Publik Dan Media dengan mengangkat tema Mengungkap Implementasi Negatif Radikalisme Dakam Kehidupan Masyarakat . Bogor (28/01)

Danil Zuchron, salah satu pemantik pada diskusi tersebut menjelaskan dii Indonesia, pengaruh radikalisme dan ektrimisme itu bisa dirasakan dan dilihat dengan mudah. Jumlah pemuda-pemuda Indonesia yang terpengaruh faham radikal tidaklah sebanding dengan jumlah mainstream umat Islam yang moderat. Akan tetapi karena mereka mempunyai militansi yang tinggi, terlatih secara militer (teror) dan adanya jaringan Internasional, maka keberadaannya mulai mengganggu ketentraman, ketertiban, stabilitas keamanan khususnya iklim toleransi beragama yang merupakan sendi utama peradaban Indonesia.

“Sebenarnya jumlah mereka sedikit dibanding dengan yang Islam moderat, tapi karena mereka militan dan ditopang jaringan internasional, keberadaan mereka jadi mengganngu keamanan dan perdamaian” turur Danil.

Dia pun menjelaskan sikap bahwa radikal boleh dilakukan namun harus sesuai dengan tempatnya, dulu kita juga radikal yaitu saat kita mengusir penjajah dari negara kita, namun gerakan radikal hari ini berbeda, bukan untuk memperkuat negara kita, namun sebaliknya malah untuk merong-rong negara kita.

“Radikal boleh dilakukan namun harus sesuai dengan tempatnya, dulu kita juga radikal yaitu saat kita mengusir penjajah dari negara kita, namun gerakan radikal hari ini berbeda, bukan untuk memperkuat negara kita, namun sebaliknya malah untuk merongronng negara kita” imbuh Danil.

Danil pun menegaskan jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan yang ada karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.

“Kalau ada yang merongrong negara kita ya harus dilawan, tentunya dengan cara yang dibenarkan juga” imbuh Danil.

Menurutnya sudah saatnya negara secara lebih serius melibatkan Ormas-ormas Islam meluruskan faham-faham radikal tersebut. Terorisme dan radikalisme, tidak hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah dan aparat keamanan saja. Melibatkan Ormas-ormas besar pendiri republik seperti NU dan Muhamadiyah merupakan langkah yang bijaksana untuk memoderasi pandangan-pandangan yang terlanjur ekstrim dan membentengi lingkungan internal masing-masing dari perembesan radikalisme.

“Negara harus melibatkan ormas-ormas keagamaan seperti NU dan Muhamadiyah untuk meluruskan mereka yang berfaham radikal” tegas Danil.

Pemantik diskusi lainnya, Ahmad Ikhrom, MA menjelaskab bahwa radikalisme Islam termasuk dalam kategori radikalisme agama. Sebenarnya dalam kontek kegamaan, untuk di Indonesia yang radikalisme yang berani menampilkan keterlibatan agama hanya umat muslim, dan ini hanya berupa kelompok yang mengatasnamakan muslim. Radikalisme Islam adalah sebuah gerakan yang menghendaki untuk di Indonesia diterapkan syariat islam.

“Radikalisme Islam masuk dalam kategori Radikalisme Agama, seperti yang ada dalam agama-agama lain, cuma kalau dalam masyarakat muslim biasanya ini dimunculkan oleh mereka yang ingin menegakkan syariat Islam” tutur Ikhrom.

Dia menamnbahka bahwa radikalisme adalah sebuah keinginan yang menggunakan pemaksaan kehendak untuk mencapai keinginannya. Kemudian sikap memaksa tersebut disertai dengan tindak kekerasa dan tindakan teror. Ketika kedua cara itu tidak berhasil maka tingkat kekerasan ditambah keras dengan menggunakan terorisme baik bersiafat aksi atau Bom Bunuh diri.  Maka dari itu Terorisme dapat dipastikan Radikal tetapi radikal bukan terorisme tetapi radikal dapat dijadikan tindakan teror untuk mendukung radikalisme. Nah kita harus hati-hati dengan adanya kelompok yang dengan menggebu-gebu mengajak untuk memurnikan Islam.

“Radikalisme adalah sebuah keinginan yang menggunakan pemaksaan kehendak untuk mencapai keinginannya. Kemudian sikap memaksa tersebut disertai dengan tindak kekerasa dan tindakan teror. Ketika kedua cara itu tidak berhasil maka tingkat kekerasan ditambah keras dengan menggunakan terorisme baik bersiafat aksi atau bom bunuh diri” imbuh Ikhrom.

Membunuh orng yang tidak satu pemikiran dengan mereka dianggap jihad, namun ini adalah pemahaman yang salah, mereka melandaskanya benar dengan dalil agama, hanya saja itu masuk kategori pemahaman yang salah. Islam itu membawa rahmat, ketentraman, bukan malah menakutnakuti.

“Mereka berfikir kalau itu adalah jihad, padahal mereka salah dalam memahami agama” pungkas Ikhrom.

Muhammad Rohim Hidayatulloh, M. Si, pemateri ketiga menjelaskan bahwa dampak daripada adanya fenomena radikalisme ini adalah minimnya akhlak.


“Radikalisme karena minimnya akhlak” tutur Rohim.

Menutut dia, radikalisme bisa merusak tatanan kehidupan yang telah diangun oleh pendahulu kita serta intoleransi yang berfikir benar menurut dia, dan pendapat orang lain salah.

“Radikalisme merusak tatanan dan menyebabkan intoleransi” imbuh Rohim.

Menurut dia, radikalisme itu tidak melulu hanya berasal dari penyempitan pemahaman agama, namun juga adanya kesenjangan sosial, hukum yang tajam kebawah dan tumpul keatas, pembanguan yang tidak merata, menurut saya ini juga bisa memicu munculnya radikalisme dan sparatisme di masyarakat.

“Selain pemahamana agama, adanya kesenjangan sosial dan ketidak adilan hukum itu juga bisa menyebabkan radikalisme” tegas Rohim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *