Dokter Wahdi: Catatan Tsunami Lampung - Indonesia Satu
Siti Fatimah Siagaan, Ketum Kohati PB HMI: Saddam harus klarifikasi, jangan tidak hadir lagi saat dipanggil MPK
28/12/2018
Pilpres 2019, aktifitas Sandi temui perajin rotan di Desa Trangsan, Sukoharjo
28/12/2018

Dokter Wahdi: Catatan Tsunami Lampung

Alam telah mengajarkan kepada saya tentang bagaimana berpijak dengan baik di bumi ini. 
Dan bertaqwalah kepada Allah dengan bersilahturahim, berbuat baik bagi sesama dan jangan membuat kerusakan dimuka bumi.

Februari 1994, gempa bumi di Lampung Barat, salah satu daerah terdampak gempa dan merupakan pusat gempa adalah Puskesmas Suoh (daerah yang sulit dijangkau dan di Kemenkes terdaftar sebagai daerah tugas dokter dengan kriteria terpencil). Pasca gempa sampai dengan 6 bulan baru tampak perbaikan kehidupan dan mulainya aktifitas geliat masyarakat dan pegawai yang ditugaskan disana.

Trauma akan gempa masih saya rasakan apalagi gempa susulan kecil masih sering terjadi. Suatu ketika saat saya sedang melakukan operasi kecil pada seorang pasien, terjadi gempa yang menyebabkan obat-obatan di rak berjatuhan, semua menjerit dan meminta saya sebagai dokter untuk keluar dari ruangan pemeriksaan. Saya menguatkan diri utk tidak berlari dan tetap mengerjakan tugas melakukan operasi pada pasien.

4 bulan Pasca gempa terjadi KLB KHOLERA yang menyebabkan 8 orang meninggal dalam satu malam. Saat itu hanya ada 3 pegawai pemerintah saya dan 2 orang perawat saya (hari minggu banyak pegawai yang keluar lokasi),camat tidak ada ditempat. Saya putuskan dengan pamong desa untuk membuat posko penanggulangan bencana malam itu juga.

Keterbatasan cairan infus dan obat-obatan, membuat saya seorang diri keluar dari lokasi untuk berjalan selama 8 jam dari pukul 22.00 menuju Kabupaten untuk mendapatkan bantuan. Apa dikata saat tiba di kabupaten, saat itu bertepatan dengan hari kesehatan nasional (HKN) dan libur nasional, dimana kantor DINKES libur dan hampir semua puskesmas libur. Alhamdulillah pada akhirnya saya mendapat bantuan dari beberapa perawat dan beberapa tempat praktik swasta atau/ pribadi untuk mendapatkan obat serta tenaga kesehatan untuk membantu saya. 


Dari kejadian tersebut saya mendapat banyak pelajaran tentang bencana.

Saat SMA MUHI yogyakarta, saya termasuk dalam Muhi Pencinta Alam (MPA). Dan kegiatan ini saya lanjutkan dengan menjadi anggota Mahasiswa Pencinta Alam Kedokteran (Mapadoks). 7 kali mendaki Gunung Merbabu, 2 kali Gunung Merapi, Lawu, Sindoro, Sumbing, Semeru, dan Gunung Merapi di jawa Tengah. Serta ikut tim SAR di gunung merbabu dan gunung Selamet sampai dengan saya lulus dokter 1992.


Pengalaman lain di gempa dan tsunami Aceh, Yogyakarta, dan terakhir Lombok. Di Palu saya tidak terlibat OK (kamar operasi) sesuatu yang tidak dapat saya tinggalkan meskipun teman-teman sesama pencinta alam banyak yang terjun kesana untuk mengajak saya. 


Dan hal ini terjadi kembali di tsunami Lampung 22/12/2018. Tentu saya tidak dapat berdiam diri dan saya tinggalkan kegiatan saya yang semuanya banyak menyita perhatian untuk bersama saudara kita dilokasi terdampak tsunami.

Perlunya mitigasi terutama point 5 tentang membentuk kerjasama dengan stakeholder terkait, pemerintah, partnership relawan, komunitas dan forum yang bertanggungjawab dan mempunyai pengalaman dalam penanggulangan bencana.

Jangan mengahadirkan mereka-mereka yang datang sekedarnya (menonton, apalagi bersenda gurau atau memanfaatkan untuk sesuatu hal simbolisas terutama menjelang Pileg, Pilpres ini.

Tahapan tanggap segera bencana alam tentu berbeda-beda sesuai dengan jenis bencana, lokasi, sosiokultural dan kemampuan daerah. Tetapi pada prinsipnya ada 3 tahapan tanggap bencana :


1. Penyelamatan jiwa manusia
2. Membuka akses untuk memudahkan evakuasi dan tata kelolanya. 
3. Recovery dan trauma healing yang membutuhkan waktu dan tahapan berikutnya.

Jangan sampai kita kehabisan nafas dan amunisi o.k strategi yang kurang pandai dalam membaca. 

Apalagi banyaknya para penonton yg menjadikan suatu peristiwa sebagai contoh kebakaran atau kecelakaan menjadi tontonan. sehingga para petugas profesional menjadi terhambat akibat terganggu kerja dan aktifitasnya dalam penyelamatan.

Ada baiknya bila hanya sekedar mampu untuk berdoa, panjatkan doa, mampu harta sodaqohkan, mampu tenaga dan keahlian: kerjakan dan terapkan dengan benar. Mampu semuanya maka lakukan semuanya.

Wahdi
28/12/2018
Posko Kenjiring Kalianda Lamsel
Tsunami lampung

(Aris)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *