Boruto, Hokage dan Ingatan Masa Silam - Indonesia Satu
Muharram Atha Rasyadi, Greenpeace Indonesia: NPAP Mari Fokuslah Pengurangan (3R) Sampah
17/05/2020
Merokok mati, gak merokok mati juga, merokok saja sampai mati
18/05/2020

Boruto, Hokage dan Ingatan Masa Silam

Didasari dengan kegalauan karena ponsel yang diduga mengalami kerusakan ternyata hidup kembali, saya melampiaskannya dengan menonton episode 1-33 animasi boruto di laptop yang saya pinjam dari teman. Menarik memang, karena tiba-tiba tangan saya bergerak otomatis membuka folder tersebut. Saya telah mengetahui animasi ini dari banyak orang yang menggemari kisah sang ayah (Naruto, red).

Namun, jangankan tau bagaimana kisah Boruto, kisah ayahnya saja saya tidak tahu. Lalu saya berfikir suatu keajaiban saya mampu bertahan menyaksikan animasi ini sampai 33 episode sekaligus dalam setengah hari. Awal episode tak begitu menarik perhatian saya sampai akhirnya berlanjut ke menit-menit selanjutnya saat saya melihat penampakan Naruto dewasa. Tentunya saya membayangkan bagaimana menggemaskannya Naruto kecil dengan rambut jigrak yang rupanya telah menjadi ayah dari dua orang anak bernama Boruto dan Himawari.

Meskipun telah didaulat menjadi hokage ke-tujuh, tak membuat Naruto menuruti semua keinginan anak sulungnya, Boruto. Tak jarang Boruto melakukan berbagai kenakalan untuk menarik perhatian ayahnya. Bukan tanpa alasan, ayahnya tersebut jarang pulang ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai Hokage yang bertugas melindungi desa Konoha. Namun, tak ingin tahu seperti apa pekerjaannya, Boruto hanya tahu jika ayahnya tak peduli dengan keluarganya lagi.

Ketika boruto masuk dalam akademi, teman sekelasnya memandangnya sebelah mata. Label ‘anak hokage’ terus melekat padanya. Hal ini membuatnya melakukan banyak hal agar orang-orang tak lantas menganggapnya sebagai anak yang akan memiliki segalanya karena bantuan ayahnya.

“Aku orang biasa, ayah ku juga sama seperti ayah kalian. Dia tidak bisa bangun pagi, tidak becus beberes rumah, selalu lupa dimana letak kaus kakinya. Jangan panggil aku anak hokage, ayah ku juga hanya orang biasa.”

Ia kerap kali menuliskan kalimat buruk di patung wajah ayahnya tanpa rasa takut untuk dihukum. Boruto ingin teman-temannya memperlakukan dirinya sebagai sahabat bukan orang yang layak di’spesialkan’.

Bagi penonton pemula seperti saya (penonton aja ada pemulanya) , ada banyak hal yang membuat saya kagum dari animasi ini. Beberapa selipan nilai parenting, persahabatan dan masalah kegalauan acapkali muncul.

Boruto, mengingatkan saya pada orang-orang yang memiliki ayah dengan kehormatan seperti Naruto. Beberapa ada yang menggunakannya sebagai pemuas diri, namun beberapa menjalankannya seperti Boruto, ingin orang-orang memandangnya seperti anak yang lain.

“Anak-anak tidak dapat memilih siapa orang tua mereka. Tapi mereka bisa memilih siapa teman-teman mereka” – Uzumaki Naruto.

Metro, 15 Mei 2020

(Ditulis setelah menonton episode saat Naruto dan Boruto menikmati ramen)

Bunga Puspita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *