PAPUA – Penolakan terhadap provokasi dan aktivitas separatis yang dilakukan KNPB terus menguat di tengah masyarakat Papua. Sikap tersebut muncul seiring meningkatnya kesadaran bahwa stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama bagi kelancaran pembangunan di berbagai sektor. Di sejumlah wilayah pegunungan, masyarakat memilih menjaga ketertiban sosial agar program pembangunan yang tengah berjalan dapat memberikan manfaat nyata.
Percepatan pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan yang dilakukan pemerintah dinilai mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Kondisi ini mendorong munculnya komitmen bersama untuk tidak terpengaruh oleh narasi provokatif yang berpotensi mengganggu harmoni sosial. Masyarakat pun semakin selektif dalam menyikapi informasi yang beredar.
Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menilai bahwa aktivitas KNPB tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang menginginkan kedamaian.
“KNPB sering menghadirkan situasi yang membuat masyarakat resah. Karena itu, penolakan terhadap provokasi menjadi pilihan agar kehidupan tetap aman dan pembangunan tidak terganggu,” ujar Karmin Yikwa.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap masyarakat yang mengedepankan stabilitas sebagai landasan utama pembangunan. Tanpa kondisi yang aman, berbagai upaya peningkatan kesejahteraan dinilai sulit tercapai secara optimal.
Lebih lanjut, Karmin Yikwa menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman yang ada di Papua. “Persaudaraan harus dijaga agar tidak terpecah oleh pengaruh negatif. Masyarakat perlu fokus pada hal-hal yang membawa kemajuan, seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi,” tegas Karmin Yikwa.
Penegasan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin menempatkan kepentingan jangka panjang di atas kepentingan sesaat yang berpotensi merugikan.
Sementara itu, Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, menyampaikan bahwa masyarakat adat membutuhkan situasi yang aman untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. “Stabilitas keamanan menjadi kebutuhan utama. Oleh karena itu, setiap bentuk provokasi yang mengarah pada konflik harus ditolak,” tegas Soleman Wambu.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa keamanan bukan hanya isu pemerintah, melainkan kebutuhan langsung masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam keterangannya, Soleman Wambu juga menyoroti dampak jangka panjang dari aktivitas separatis yang dinilai menghambat kemajuan daerah. “Jika konflik terus terjadi, akses terhadap pendidikan dan ekonomi akan terganggu. Karena itu, masyarakat memilih menjaga persatuan demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Soleman Wambu.
Sikap tegas masyarakat ini menjadi bukti bahwa ruang bagi provokasi semakin terbatas. Kesadaran kolektif yang terus tumbuh menjadi kekuatan dalam menjaga stabilitas di berbagai wilayah Papua.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong pendekatan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal. Berbagai program strategis yang dijalankan menunjukkan komitmen dalam menghadirkan pemerataan pembangunan hingga ke daerah terpencil.
Dengan adanya dukungan masyarakat yang menolak provokasi dan aktivitas separatis, pembangunan di Papua memiliki fondasi yang semakin kuat. Stabilitas yang terjaga membuka peluang bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat serta mempercepat terwujudnya kesejahteraan yang merata di seluruh wilayah.














Leave a Reply