Indonesia-Satu.com

Independen Terpercaya

Saat Takbiran dan Nyepi Beriringan, Toleransi Menjadi Nyata

Oleh : Dewi Fatimah )*
Di tahun 2026 ini, masyarakat Indonesia kembali diingatkan pada satu kenyataan yang indah tentang kebhinekaan. Malam takbiran yang menjadi penanda datangnya Hari Raya Idulfitri bagi umat Islam beriringan dengan Hari Raya Nyepi yang dirayakan oleh umat Hindu. Dua momentum keagamaan besar yang memiliki karakter sangat berbeda tersebut justru memperlihatkan wajah toleransi yang nyata di tengah kehidupan masyarakat. Takbiran identik dengan gema takbir, kebahagiaan, dan aktivitas masyarakat yang berlangsung hingga malam hari. Sementara Nyepi dijalani dengan suasana hening, refleksi diri, dan pembatasan aktivitas di ruang publik. Perbedaan ini tidak menjadi sumber gesekan, melainkan ruang untuk saling memahami.

Di berbagai daerah di Indonesia, suasana kebersamaan justru terlihat semakin kuat ketika dua perayaan ini hadir dalam waktu yang bersamaan. Masyarakat saling menyesuaikan diri agar kedua ibadah dapat berjalan dengan khidmat. Di sejumlah wilayah, umat Islam yang merayakan malam takbiran bersedia menyesuaikan kegiatan agar tidak mengganggu pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Di sisi lain, umat Hindu juga menunjukkan sikap terbuka dengan menghargai kebahagiaan umat Muslim yang menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Momen ini menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Husnul Fahmi mengatakan pelaksanaan malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah/Tahun 2026 bertepatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948/Tahun 2026, yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Pihaknya menjelaskan telah melakukan pertemuan beberapa kali dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali dan membuat seruan bersama bahwa umat Islam khususnya warga Muhammadiyah tetap diperbolehkan untuk melaksanakan takbir, namun dengan beberapa catatan salah satunya melakukan takbir, serta berjalan kaki menuju masjid/mushola terdekat dan tidak menggunakan pengeras suara, serta penerangan yang terlalu mencolok.

Kondisi ini memperlihatkan kematangan sosial masyarakat Indonesia dalam mengelola perbedaan. Di tengah keragaman suku, agama, dan budaya, masyarakat telah memiliki tradisi panjang dalam merawat harmoni. Ketika dua perayaan keagamaan bertemu dalam waktu yang sama, masyarakat tidak melihatnya sebagai persoalan, tetapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan sikap saling menghormati. Nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari budaya bangsa kembali terlihat dalam situasi seperti ini.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar menjelaskan pemerintah provinsi, pemerintah daerah, tokoh agama, dan aparat keamanan turut berperan dalam memastikan kedua perayaan dapat berjalan dengan aman dan tertib. Koordinasi dilakukan untuk mengatur aktivitas masyarakat agar tetap menghormati ketentuan yang berlaku selama Nyepi tanpa menghilangkan semangat perayaan Idulfitri. Upaya ini menunjukkan bahwa toleransi tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan dan pengaturan yang bijak dari pemerintah.

Pada Hari Nyepi terdapat aturan untuk menjaga keheningan, tanpa suara bising maupun aktivitas kendaraan. Sementara itu, pada malam yang sama umat Islam juga memiliki tradisi takbiran untuk menyambut Idulfitri. Oleh sebab itu, pemerintah membangun komunikasi agar kedua perayaan tersebut dapat berlangsung dengan tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati. Dari hasil koordinasi tersebut, dicapai kesepakatan bersama yang mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Bali. Takbiran tetap dapat dilaksanakan, namun dengan sejumlah penyesuaian agar tidak mengganggu pelaksanaan Nyepi.

Fenomena beriringannya takbiran dan Nyepi juga menjadi pengingat penting bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa Indonesia. Perbedaan cara beribadah, tradisi, dan budaya bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru dari perbedaan itulah lahir sikap saling menghargai yang memperkaya kehidupan sosial. Indonesia sejak awal berdiri telah dibangun di atas kesadaran bahwa masyarakatnya beragam, sehingga nilai toleransi menjadi fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial, momen seperti ini juga memiliki nilai edukatif yang besar. Banyak masyarakat yang membagikan cerita tentang bagaimana mereka saling menghormati dalam menjalankan ibadah masing-masing. Kisah-kisah sederhana tentang warga yang menahan diri dari aktivitas yang berpotensi mengganggu, atau masyarakat yang saling membantu menjaga ketertiban lingkungan, menjadi contoh nyata bahwa toleransi dapat tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.

Gubernur Bali, I Wayan Koster menegaskan lebih dari sekadar peristiwa tahunan, beriringannya takbiran dan Nyepi menyampaikan pesan penting tentang masa depan Indonesia. Bangsa ini akan terus menghadapi berbagai dinamika sosial, politik, dan budaya. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk saling menghargai perbedaan menjadi modal sosial yang sangat berharga. Ketika masyarakat mampu menjaga harmoni dalam hal yang sensitif seperti ibadah keagamaan, maka sebenarnya masyarakat telah menunjukkan kedewasaan dalam menjaga persatuan.

Pada akhirnya, pertemuan dua perayaan besar ini mengingatkan bahwa toleransi bukan hanya tentang membiarkan orang lain berbeda, tetapi tentang kesediaan untuk memberi ruang bagi orang lain menjalankan keyakinannya dengan damai. Malam takbiran yang penuh gema takbir dan Hari Raya Nyepi yang hening menjadi simbol bahwa perbedaan dapat berjalan berdampingan. Dari situlah terlihat bahwa toleransi di Indonesia bukan sekadar konsep, melainkan kenyataan yang hidup di tengah masyarakat.

)* Kontributor Lingkar Khatulistiwa Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *