Indonesia-Satu.com

Independen Terpercaya

Pemerintah Hadir di Aceh, Masyarakat Dukung Pemulihan Infrastruktur dan Tolak Eksistensi Bendera GAM

Oleh : Nadia Khalifa )*

Kehadiran negara di tengah masyarakat Aceh kembali menemukan relevansinya pada momentum pemulihan pascabencana yang masih berlangsung. Pemerintah menunjukkan keseriusan untuk tidak sekadar hadir secara simbolik, melainkan memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan berkelanjutan, menyentuh kebutuhan riil warga, serta menjaga stabilitas sosial dan politik di daerah. Dalam konteks ini, dukungan masyarakat Aceh terhadap pemulihan infrastruktur dan penolakan terhadap eksistensi simbol separatis seperti bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi penanda kuat bahwa semangat kebersamaan dan keutuhan nasional tetap terjaga.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan rakyat yang tengah menghadapi musibah. Penegasan tersebut disampaikan saat Presiden menyapa masyarakat pada malam pergantian tahun di Desa Batu Hula, Tapanuli Selatan. Dalam kesempatan itu, Presiden menyampaikan pesan optimisme, keteguhan hati, serta pentingnya gotong royong sebagai fondasi menghadapi tantangan. Kehadiran langsung Presiden di tengah masyarakat terdampak menjadi pesan kuat bahwa negara hadir bukan dari kejauhan, tetapi berdiri bersama rakyat dalam situasi sulit.

Komitmen tersebut diperkuat dengan penugasan para menteri untuk turun langsung ke lapangan guna memastikan penanganan bencana berjalan efektif di seluruh wilayah terdampak. Langkah ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang responsif dan terkoordinasi, di mana pengambilan kebijakan didasarkan pada kondisi faktual di lapangan. Pemerintah juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, mengingat bencana kerap berkaitan erat dengan relasi manusia dan alam.

Di Aceh, proses pemulihan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak. Jalan, jembatan, fasilitas publik, serta sarana ekonomi masyarakat membutuhkan perbaikan cepat agar aktivitas sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan normal. Dukungan masyarakat terhadap agenda pemulihan ini terlihat dari harapan besar agar pembangunan dilakukan secara adil, merata, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang. Aceh tidak hanya membutuhkan bangunan fisik yang pulih, tetapi juga rasa aman, stabilitas, dan kepercayaan terhadap kehadiran negara.

Dalam situasi pemulihan tersebut, munculnya kembali isu pengibaran bendera GAM menjadi perhatian serius. Ramainya perbincangan terkait simbol separatis itu dinilai berpotensi mengganggu fokus pemulihan dan memicu kegaduhan sosial. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai bahwa isu tersebut tidak bisa dilepaskan dari adanya upaya-upaya tertentu yang ingin memecah belah persatuan dan mengganggu stabilitas nasional. Ia menekankan bahwa pengamanan yang dilakukan aparat, termasuk TNI, harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan serta memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

Dave juga mengingatkan pentingnya solidaritas seluruh elemen bangsa dalam menghadapi masa pemulihan. Menurutnya, masyarakat perlu bersatu padu dan bekerja sama dengan aparat pusat maupun daerah, baik sipil, militer, maupun kepolisian, agar tidak ada ruang bagi agenda-agenda yang bertujuan menciptakan kekacauan. Fokus pemerintah, kata dia, seharusnya tidak boleh teralihkan dari tugas besar melayani masyarakat dan membangun kembali Aceh yang terdampak bencana.

Penolakan masyarakat terhadap eksistensi bendera GAM di ruang publik menunjukkan kedewasaan politik dan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kondusivitas. Aceh telah melalui perjalanan panjang menuju perdamaian dan stabilitas, sehingga simbol-simbol yang berpotensi membuka luka lama tidak sejalan dengan semangat membangun masa depan. Dalam konteks pemulihan pascabencana, menjaga persatuan menjadi prasyarat utama agar seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan optimal.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah di Aceh, mulai dari rehabilitasi infrastruktur dasar hingga pemulihan ekonomi masyarakat. Dave Laksono menilai bahwa membangun kembali pertumbuhan ekonomi Aceh membutuhkan kerja sama yang solid dari semua pihak. Tanpa stabilitas keamanan dan sosial, upaya rekonstruksi akan menghadapi hambatan yang tidak perlu. Oleh karena itu, segala bentuk provokasi yang berpotensi mengganggu persatuan patut diwaspadai dan ditolak bersama.

Secara keseluruhan, kehadiran pemerintah di Aceh, baik melalui kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto maupun dukungan legislatif dan aparat di lapangan, mencerminkan komitmen negara untuk melindungi dan melayani seluruh rakyatnya. Dukungan masyarakat terhadap pemulihan infrastruktur serta penolakan terhadap simbol separatis menjadi modal sosial yang berharga. Dengan semangat gotong royong, kewaspadaan terhadap provokasi, dan fokus pada pembangunan, Aceh memiliki peluang besar untuk bangkit lebih kuat dan melangkah mantap menuju masa depan yang aman, damai, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

)* Penulis adalah Pengamat Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *