Jakarta – Di tengah dinamika global yang masih berkembang, kondisi pasokan energi nasional tetap terjaga dengan baik dan berada dalam kendali pemerintah. Stabilitas ini mencerminkan kesiapan negara dalam mengelola sumber daya energi secara efektif, sehingga kebutuhan masyarakat dan sektor industri dapat terpenuhi secara optimal.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak masyarakat untuk menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketidakpastian global imbas memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pemerintah sendiri telah membatasi pembelian BBM maksimal 50 liter per hari, kecuali bagi kendaraan umum. Kebijakan ini dipantau melalui aplikasi My Pertamina.
“Saya, mantan sopir angkot ini, mengajak kepada semua masyarakat bahwa dalam kondisi seperti ini tidak bisa pemerintah bekerja sendiri. Kita membutuhkan dukungan kerja sama dari Masyarakat. Caranya seperti apa? Kita harus melakukan pembelian BBM dengan wajar dan bijak, ujar Bahlil.
Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI yang juga pengamat tata kota, Muh Azis Muslim, menilai efektivitas kebijakan hemat energi sangat bergantung pada implementasi di lapangan. Namun secara desain, Azis menilai kebijakan ini sudah mengarah pada dampak penghematan yang cukup besar.
Kalau kita melihat dari delapan langkah yang ditetapkan pemerintah, itu memiliki potensi untuk bisa efektif, selama ada pengawalan implementasi, edukasi ke masyarakat, dan konsistensi penerapan, ungkap Azis.
Untuk diketahui, untuk melakukan penghematan BBM, pemerintah mengeluarkan dua kebijakan, yakni Work From Home (WFH) dan perluasan car free day (CFD). Kedua langka itu secara langsung bisa mengurangi mobilitas harian masyarakat yang selama ini menjadi penyumbang besar konsumsi energi di perkotaan.
Dari sektor transportasi tentu ini akan bisa membawa dampak yang signifikan, karena mobilitas harian mengalami perubahan, jelasnya.
Azis meyakini, berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi berpotensi menekan konsumsi bahan bakar secara langsung. Namun ia juga berharap, pemerintah tetap memberikan dukungan perbaikan infrastruktur transportasi publik di samping hanya kebijakan penghematan.
Di samping itu, lanjut Azis, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci sejauh mana kebijakan ini dapat berjalan. Ia mengimbau masyarakat untuk mau disiplin dalam menerapkan kebijakan penghematan dari pemerintah.
Setelah kondisi kembali normal, perilaku masyarakat bisa kembali seperti semula, pungkas dia.








Leave a Reply