Oleh : Lailani Yunzi Anggraini )*
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijalankan pemerintah di wilayah Aceh dan sejumlah provinsi di Pulau Sumatra patut mendapat apresiasi luas sebagai langkah strategis dalam menekan risiko banjir ekstrem susulan. Di tengah dinamika cuaca yang masih berada pada puncak musim hujan, kebijakan ini menunjukkan kehadiran negara yang sigap, berbasis sains, serta mengedepankan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama. Upaya pengendalian curah hujan melalui teknologi atmosfer bukan sekadar respons jangka pendek, tetapi juga bagian dari manajemen risiko bencana yang semakin adaptif terhadap perubahan iklim.
Dalam beberapa waktu terakhir, Sumatra menghadapi tantangan cuaca ekstrem akibat pengaruh siklon tropis di kawasan sekitarnya. Curah hujan tinggi yang terjadi berulang kali memicu banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kondisi tersebut menuntut langkah cepat agar dampak tidak meluas dan proses penanganan darurat dapat berjalan optimal. Pemerintah melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga kemudian mengaktifkan operasi modifikasi cuaca untuk mengalihkan potensi hujan dari wilayah daratan ke laut, sehingga debit air di sungai dan kawasan rawan banjir dapat ditekan.
Pihak Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menegaskan bahwa operasi ini dijalankan sebagai langkah antisipatif untuk meminimalkan curah hujan di wilayah terdampak. Pemerintah memandang percepatan surutnya banjir sangat penting agar evakuasi warga, distribusi bantuan, serta pemulihan fasilitas publik dapat dilakukan secara maksimal. Selain itu, meskipun salah satu siklon tropis penyebab hujan ekstrem telah mereda, kewaspadaan tetap dijaga karena masih terdapat potensi gangguan cuaca lain di wilayah utara Sumatra. Pendekatan ini mencerminkan prinsip kehati-hatian sekaligus kesiapsiagaan negara dalam menghadapi ketidakpastian iklim.
Efektivitas operasi modifikasi cuaca juga diperkuat oleh evaluasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana. BNPB menilai bahwa pelaksanaan OMC selama sekitar satu bulan berhasil menurunkan intensitas hujan di sejumlah wilayah terdampak. Data menunjukkan bahwa jumlah hari tanpa hujan tercatat lebih banyak dibandingkan hari hujan dalam periode tersebut. Meski hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi secara sporadis di beberapa titik, kondisi ini dipahami sebagai konsekuensi dari cuaca yang sangat dinamis pada puncak musim hujan. Namun secara umum, tekanan terhadap risiko banjir ekstrem susulan dapat dikendalikan.
Koordinasi antara BNPB, BMKG, dan unsur TNI terus diperkuat untuk memastikan pengendalian potensi hujan berjalan optimal. Hingga evaluasi terakhir, tidak ditemukan tambahan korban jiwa maupun dampak baru di luar kejadian banjir dan longsor yang telah terjadi sebelumnya. Fakta ini menjadi indikator penting bahwa langkah mitigasi yang ditempuh berada pada jalur yang tepat dan memberi ruang bagi masyarakat untuk mulai memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi secara bertahap.
Lebih dari sekadar teknologi, keberhasilan operasi modifikasi cuaca juga ditopang oleh sinergi dan gotong royong berbagai pihak. Pemerintah daerah, relawan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat setempat terlibat aktif dalam penanganan darurat dan pemulihan pascabencana. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa mitigasi bencana yang efektif tidak dapat berdiri sendiri, melainkan memerlukan keterpaduan antara kebijakan nasional, kapasitas daerah, dan partisipasi publik. Dalam konteks ini, OMC menjadi instrumen pendukung yang memperkuat kerja-kerja kemanusiaan di lapangan.
Apresiasi terhadap OMC juga perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan ketangguhan bencana jangka panjang. Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, sehingga pendekatan konvensional tidak lagi memadai. Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca menunjukkan komitmen pemerintah untuk beradaptasi dengan tantangan baru tersebut. Namun, ke depan, langkah ini perlu dilengkapi dengan penguatan sistem peringatan dini, penataan tata ruang yang berkelanjutan, serta edukasi publik mengenai kesiapsiagaan bencana.
Di sisi lain, operasi modifikasi cuaca tidak boleh dipandang sebagai solusi tunggal. Pemerintah tetap perlu memastikan bahwa upaya struktural seperti normalisasi sungai, perbaikan drainase, serta rehabilitasi daerah aliran sungai berjalan seiring. Dengan demikian, risiko banjir tidak hanya ditekan saat kejadian darurat, tetapi juga dicegah sejak hulu melalui kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan. Integrasi antara teknologi, infrastruktur, dan kesadaran sosial akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan iklim di masa depan.
Secara keseluruhan, operasi modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra mencerminkan keseriusan negara dalam melindungi warganya dari ancaman bencana hidrometeorologi. Penurunan risiko banjir ekstrem susulan, kelancaran proses evakuasi, serta stabilitas kondisi pascabencana menjadi bukti nyata manfaat kebijakan ini. Dengan evaluasi berkelanjutan dan penguatan kolaborasi lintas sektor, operasi modifikasi cuaca dapat terus dikembangkan sebagai bagian integral dari strategi nasional pengurangan risiko bencana. Apresiasi publik terhadap langkah ini menjadi penting agar semangat kolektif dalam membangun ketangguhan bangsa terhadap bencana alam semakin menguat.
)* Penulis adalah Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan












Leave a Reply