Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penguatan kerja sama kawasan dalam menghadapi tekanan global dan ketidakstabilan geopolitik dunia saat menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam forum KTT Khusus BIMP-EAGA yang menjadi bagian dari rangkaian pertemuan ASEAN. Menurut Presiden, tantangan global saat ini menuntut kolaborasi yang lebih erat, adaptif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat kawasan.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. atas sambutan dan kepemimpinannya dalam forum tersebut. Ia menilai momentum KTT BIMP-EAGA sangat strategis di tengah meningkatnya tekanan global, khususnya pada sektor energi dan pangan.
KTT Khusus ini hadir di saat yang sangat genting. Tantangan yang kita hadapi menuntut kolaborasi yang lebih erat dan efektif di antara kita, ujar Presiden Prabowo.
Presiden menegaskan BIMP-EAGA harus berkembang menjadi organisasi subkawasan yang lebih responsif terhadap perubahan dunia dan kebutuhan masyarakat. BIMP-EAGA harus lebih adaptif, lebih berdampak, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat kita, lanjutnya.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo juga menyoroti isu ketahanan energi yang dinilai semakin mendesak akibat tekanan global dan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Ketahanan energi adalah salah satu isu penting yang kita hadapi saat ini. Ini bukan lagi masalah jangka panjang, melainkan masalah mendesak, tegasnya.
Presiden menyebut kawasan BIMP-EAGA memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga air, surya, hingga angin.
Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN, kata Presiden.
Di sela rangkaian The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community Council, Indonesia juga memperkuat posisi strategisnya melalui kerja sama industri nikel dengan Filipina.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Maria Cristina A. Roque, menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara APNI dan PNIA terkait pengembangan industri nikel strategis.
Airlangga menyebut kerja sama tersebut menjadi fondasi Indonesia-Philippines Nickel Corridor yang menghubungkan kekuatan hilirisasi Indonesia dengan pasokan bijih nikel Filipina.
Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia, ujar Airlangga.









Leave a Reply