Oleh: Syamsul Huda )*
Pembangunan hunian tetap bagi korban bencana merupakan indikator penting kehadiran negara dalam menjamin hak dasar warga terdampak. Bencana banjir dan longsor di Sumatra tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka sosial yang membutuhkan pemulihan berkelanjutan. Dalam konteks ini, langkah sinergis pemerintah pusat dan daerah menjadi krusial agar proses rehabilitasi tidak terfragmentasi. Pendekatan terpadu memastikan bahwa pemulihan tidak berhenti pada bantuan darurat, melainkan berlanjut hingga masyarakat kembali hidup layak. Kebijakan pembangunan hunian tetap mencerminkan orientasi pemerintah pada solusi jangka panjang yang berkeadilan.
Komitmen pemerintah terlihat dari pernyataan pihak Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Sebanyak 2.603 unit hunian siap dibangun pada tahap awal sebagai bagian dari program pemulihan pascabencana yang terintegrasi. Kebijakan ini menunjukkan keberanian administratif dan ketegasan politik untuk mempercepat pemulihan. Pemerintah tidak menunggu seluruh prosedur rampung untuk bergerak, namun tetap memastikan tata kelola dan akuntabilitas berjalan. Langkah ini menandai perubahan paradigma penanganan bencana yang lebih responsif.
Sinergi lintas sektor menjadi fondasi utama keberhasilan pembangunan hunian tetap tersebut. Keterlibatan kementerian dan lembaga, termasuk PLN dan BNPB, memastikan ketersediaan infrastruktur dasar sejak awal. Penyediaan listrik, akses air bersih, serta dukungan penanggulangan bencana lanjutan harus berjalan paralel dengan pembangunan fisik hunian. Selain itu, pemerintah daerah memegang peran penting dalam penyediaan lahan dan penerbitan sertifikat tanah. Dengan koordinasi yang solid, hambatan klasik pascabencana dapat diminimalkan secara signifikan.
Sementara dari pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memastikan verifikasi lahan dilakukan secara cermat untuk menjamin legalitas dan keberlanjutan hunian tetap. Sebanyak 104 unit hunian direncanakan segera dibangun sesuai dengan lahan yang telah tersedia. Kolaborasi dengan pemerintah pusat mempercepat proses perencanaan dan pendanaan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa desentralisasi tidak mengurangi efektivitas, justru memperkuat implementasi kebijakan nasional di tingkat lokal.
Langkah verifikasi lahan memiliki arti strategis dalam mencegah persoalan hukum di kemudian hari. Banyak program pascabencana tersendat akibat ketidakjelasan status tanah, yang akhirnya merugikan korban. Dengan memastikan aspek legal sejak awal, pemerintah daerah memberikan kepastian kepada masyarakat penerima manfaat. Selain itu, kejelasan lahan memungkinkan pembangunan dilakukan sesuai standar teknis dan tata ruang. Praktik ini patut diapresiasi sebagai bentuk tata kelola yang bertanggung jawab dan berorientasi pada keberlanjutan.
Tidak hanya pemerintah sipil, institusi keamanan juga menunjukkan peran aktif dalam pemulihan pascabencana. Polri mengambil inisiatif membangun hunian tetap bagi korban banjir di Aceh Tamiang. Pembangunan dilakukan di lahan perkebunan PTPN I di Desa Simpang Kanan, Kecamatan Kejuruan Muda. Keterlibatan Polri menegaskan bahwa penanganan bencana merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen negara. Kehadiran institusi ini memperkuat rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Percepatan pembangunan memang sangat penting, meski beberapa dokumen administratif masih berproses. Penekanan pada kesiapan lahan dan perencanaan logistik yang terukur mencerminkan pendekatan pragmatis tanpa mengabaikan prinsip tata kelola. Langkah ini bertujuan meminimalkan hambatan birokrasi yang kerap memperlambat pemulihan. Dalam situasi darurat, fleksibilitas kebijakan menjadi kunci selama tetap berada dalam koridor hukum. Pendekatan tersebut menunjukkan keseimbangan antara kecepatan dan akuntabilitas.
Pembangunan hunian tetap tidak sekadar membangun rumah, tetapi juga membangun kembali martabat dan harapan masyarakat terdampak. Hunian yang layak memungkinkan warga kembali produktif, anak-anak kembali bersekolah, dan roda ekonomi lokal berputar. Oleh karena itu, kualitas pembangunan harus menjadi perhatian utama, termasuk aspek keselamatan, kesehatan, dan aksesibilitas. Pemerintah perlu memastikan standar bangunan tahan bencana diterapkan secara konsisten. Dengan demikian, hunian tetap benar-benar menjadi solusi jangka panjang, bukan sekadar respons sementara.
Keberhasilan program ini juga bergantung pada partisipasi masyarakat dan transparansi pelaksanaan. Pelibatan warga dalam proses perencanaan dan pengawasan dapat meningkatkan rasa memiliki dan mencegah potensi penyimpangan. Selain itu, komunikasi publik yang terbuka akan memperkuat kepercayaan terhadap pemerintah. Ketika masyarakat memahami tahapan dan target pembangunan, dukungan publik akan menguat. Sinergi negara dan warga menjadi modal sosial yang tak ternilai dalam pemulihan pascabencana.
Dukungan masyarakat menjadi elemen penting agar pembangunan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor di Sumatra berjalan optimal. Masyarakat diharapkan terus mengawal, mendukung, dan berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan pemulihan. Pemerintah telah menunjukkan komitmen dan sinergi lintas sektor yang kuat, kini saatnya publik memperkuatnya dengan kepercayaan dan kolaborasi. Dengan dukungan bersama, hunian tetap tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi simbol kebangkitan dan solidaritas nasional. Langkah kolektif inilah yang akan memastikan pemulihan berjalan adil, cepat, dan berkelanjutan.
)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.












Leave a Reply